Nama Allah Ta’ala yang maha mulia ini disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((لا يدخل الجنة من كان في قلبه
مثقالُ ذرة من كبر)). قال رجل: إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسناً ونعله
حسنةً. قال: ((إن الله جميلٌ يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس)) رواه
مسلم.
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan
seberat biji debu”. Ada seorang yang bertanya: Sesungguhnya setiap orang
suka (memakai) baju yang indah, dan alas kaki yang bagus, (apakah ini
termasuk sombong?). Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu
adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”[1].
Makna al-Jamil secara bahasa
Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah indah/bagus[2].
Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa asal kata nama ini berarti keindahan dalam tingkah laku dan rupa[3].
Ibnul Atsir lebih lanjut menjelaskan bahwa al-Jamil berarti Yang Maha Indah perbuatan-perbuatan-Nya dan sempurna sifat-sifat-Nya[4].
Penjabaran makna nama Allah al-Jamil
Nama Allah Ta’ala yang agung ini menunjukkan sempurnanya keindahan Allah Ta’ala pada semua nama, sifat, zat dan perbuatan-Nya[5].
Imam an-Nawawi menjelaskan makna hadits di atas: bahwa semua urusan Allah Ta’ala (maha) indah dan baik, dan Dia memiliki nama-nama yang maha indah serta sifat-sifat yang maha bagus dan sempurna[6].
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan hal ini dengan terperinci dalam ucapan beliau: “Keindahan Allah Ta’ala ada empat tingkatan: keindahan zat, keindahan sifat, keindahan perbuatan dan keindahan nama.
Maka nama-nama Allah semuanya maha indah, sifat-sifat-Nya semuanya maha
sempurna, dan perbuatan-perbuatan-Nya semuanya (mengandung) hikmah,
kemaslahatan (kebaikan), keadilan dan rahmat (kasih sayang). Adapun
keindahan zat dan apa yang ada padanya, maka ini adalah perkara yang
tidak bisa dicapai dan diketahui oleh selain-Nya. Semua makhluk tidak
memiliki pengetahuan tentang itu kecuali (sedikit) pengetahuan yang
dengan itulah Dia memperkenalkan dirinya kepada hamba-hamba yang
dimuliakan-Nya. Sesungguhnya keindahan-Nya itu terjaga dari (segala
bentuk) perubahan, terlindungi dengan tabir selendang dan sarung
(kemuliaan), sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah (hadits qudsi), “Kebesaran itu adalah selendang-Ku dan keagungan itu adalah sarung-Ku…”[7]. Maka bagaimana anggapanmu terhadap keindahan yang ditutupi dengan sifat-sifat kesempurnaan, keagungan dan kemuliaan?
Dari makna inilah kita dapat memahami sebagian arti keindahan
zat-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba akan terus meningkat
(pengetahuannya tentang Allah Ta’ala), dari mengenal
perbuatan-perbuatan-Nya (meningkat) menjadi mengenal sifat-sifat-Nya,
dan dari mengenal sifat-sifat-Nya (meningkat) menjadi mengenal zat-Nya.
Maka jika dia menyaksikan sesuatu (yang merupakan pengaruh baik) dari
keindahan perbuatan-Nya, dia akan menjadikannya sebagai (argumentasi)
yang menunjukkan keindahan sifat-Nya, kemudian keindahan sifat ini
dijadikannya sebagai (argumentasi) yang menunjukkan keindahan zat-Nya.
Dari sinilah jelas (bagi kita) bahwa Allah Ta’ala
bagi-Nyalah segala pujian, dan bahwa tidak ada seorang makhluk pun yang
mampu membatasi/menghitung sanjungan bagi-Nya, bahkan Dia adalah seperti
pujian yang ditujukan-Nya untuk diri-Nya sendiri. Dialah yang berhak
disembah, dicintai dan disyukuri karena zat-Nya, dan Dia mencintai,
memuji dan menyanjung diri-Nya sendiri. Sesungguhnya kecintaan, pujian,
sanjungan dan pengesaan-Nya terhadap diri-Nya sendiri, pada hakikatnya
itulah pujian, sanjungan, cinta dan tauhid (yang sebenarnya). Maka Allah Ta’ala
adalah seperti pujian yang ditujukan-Nya untuk diri-Nya sendiri dan di
atas pujian yang ditujukan makhluk-Nya kepada-Nya, Dan Allah Ta’ala
dicintai zat, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua
perbuatan-Nya indah dan dicintai, meskipun diantara obyek perbuatan-Nya
ada yang dibenci dan tidak disukai-Nya, akan tetapi tidak ada pada
perbuatan-Nya sesuatu yang dibenci dan dimurkai. Tidak ada satupun di
alam ini yang dicintai, dipuji karena zatnya kecuali Allah Ta’ala.
Dan semua yang dicintai selain-Nya, jika kecintaan tersebut mengikui
kecintaan kepada-Nya, yaitu dengan mencintainya karena-Nya, maka
kecintaan ini adalah kecintaan yang benar. Adapun selain itu adalah
kecintaan yang batil (salah).
Inilah hakikat ilahiyyah (penghambaan diri kepada-Nya),
karena sembahan yang benar dialah yang dicintai dan dipuji zat-Nya.
Terlebih lagi jika semua itu digandengkan dengan (mengingat dan
menyakini) kebaikan, limpahan nikmat, kelembutan, pengampunan, pemaafan,
anugerah dan rahmat-Nya.
Maka seorang hamba hendaknya memahami bahwa tidak ada sembahan yang
benar kecuali Allah, maka dia mencintai dan memuji-Nya karena zat dan
kesempurnaan-Nya. Dan hendaknya dia mengetahui bahwa pada hakikatnya
tidak ada yang melakukan kebaikan (kepadanya) dengan (melimpahkan)
berbagai macam nikmat lahir dan batin, kecuali Allah (Ta’ala),
maka dia mencintai-Nya karena kebaikan dan limpahan nikmat-Nya, dan
memuji-Nya atas semua itu. Maka dia mencintai Allah dari kedua segi itu
secara bersamaan.
Sebagaimana Allah (Ta’ala) tidak ada sesuatu pun yang
meyerupai-Nya, maka kecintaan kepada-Nya tidak seperti kecintaan kepada
selain-Nya. Dan kecintaan yang disertai ketundukan itulah (hakikat)
penghambaan diri (kepada-Nya), yang untuk tujuan inilah Allah
menciptakan (semua) makhluk-Nya. Karena ubudiyyah (penghambaan
diri) adalah kecintaan yang utuh disertai ketundukan yang sempurna, yang
ini semua tidak pantas ditujukan kecuali kepada Allah Ta’ala (semata-mata). Dan menyekutukan-Nya dalam hal ini adalah perbuatan syirik yang tidak diampuni-Nya dan tidak diterima amal perbuatan pelakunya”[8].
Di tempat lain, beliau berkata, “Kecintaan itu memiliki dua (sebab)
yang membangkitkannya, (yaitu) keindahan dan pengagungan, dan Allah Ta’ala
memiliki kesempurnaan yang mutlak pada semua itu, karena Dia Maha Indah
dan mencintai keindahan, bahkan semua keindahan adalah milik-Nya, dan
semua pengagungan (bersumber) dari-Nya, sehingga tidak ada sesuatupun
yang berhak untuk dicintai dari semua segi karena zatnya kecuali Allah Ta’ala “[9].
Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah al-Jamil
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk jenis pengetahuan yang paling mulia adalah mengenal Allah Ta’ala dengan (sifat) al-jamal
(maha indah). Ini adalah pengetahuan (yang dimiliki) hamba-hamba
(Allah) yang istimewa. Semua manusia mengenal-Nya dengan satu sifat dari
semua sifat-Nya, akan tetapi yang paling sempurna pengetahuannya
(tentang Allah Ta’ala) adalah yang mengenal-Nya dengan (sifat)
kesempurnaan, keagungan dan keindahan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan-Nya dalam semua sifat-sifat-Nya. Seandainyapun semua
makhluk memiliki rupa yang paling indah, kemudian keindahan mereka lahir
dan batin dibandingkan dengan keindahan Allah Ta’ala, maka
sungguh (perbandingannya) lebih rendah dari pada perbandingan pelita
yang redup (cahayanya) dengan (terangnya cahaya) lingkaran matahari …
Cukuplah (yang menunjukkan kesempurnaan) keindahan-Nya bahwa semua
keindahan lahir dan batin di dunia dan akhirat adalah termasuk
jejak-jejak penciptaan-Nya, maka bagaimana pula dengan zat yang
bersumber darinya (semua) keindahan ini?”[10].
Kemudian, pengaruh positif mengimani nama Allah yang maha agung ini dapat kita ambil dari penjelasan makna hadits di atas.
Sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya
Allah Maha Indah dan mencintai keindahan”, mengandung dua unsur
landasan Islam yang agung, yaitu pengetahuan tentang sifat Allah Ta’ala dan pengamalan konsekwensi dari sifat tersebut. Yang pertama kita mengenal Allah Ta’ala dengan sifat maha indah yang tidak ada satu makhlukpun menyerupainya, kemudian yang kedua kita beribadah kepada Allah Ta’ala dengan sifat indah yang dicintai-Nya, dalam ucapan, perbuatan dan akhlak.
Allah Ta’ala mencintai seorang hamba yang
memperindah/menghiasi ucapannya dengan kejujuran, hatinya dengan
keikhlasan, kecintaan, selalu kembali dan bertawakkal (kepada-Nya), dan
anggota badannya dengan ketaatan (kepada-Nya), serta tubuhnya dengan
memperlihatkan nikamat yang dianugrahkan-Nya kepadanya, dalam
berpakaian, membersihkan tubuh dari najis dan kotoran, memotong kuku,
dan sebagainya. Maka hamba yang dicintai-Nya adalah hamba yang
mengenal-Nya dengan sifat maha indah-Nya kemudian beribadah kepada-Nya
dengan keindahan yang ada pada agama dan syariat-Nya.
Hadits di atas maknanya meliputi keindahan pada pakaian dan alas kaki
yang ditanyakan oleh sahabat di atas, juga maknanya secara umum
meliputi keindahan pada segala sesuatu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“إن الله يحب أن يرى أثر نعمته على عبده”
“Sesungguhnya Allah suka melihat (tampaknya) bekas nikmat (yang dilimpahkan-Nya) kepada hamba-Nya”[11].
Maka Allah Ta’ala suka melihat (tampaknya) bekas nikmat
(yang dilimpahkan-Nya) kepada hamba-Nya, karena ini termasuk keindahan
yang dicintai-Nya, dan ini termasuk bentuk syukur kepada-Nya atas
limpahan nikmat-Nya. Bersyukur adalah bentuk keindahan dalam batin, maka
Allah Ta’ala suka melihat pada diri hamba-Nya keindahan lahir yang berupa tampaknya bekas nikmat-Nya pada diri hamba-Nya.
Oleh karena itulah, Allah menurunkan kepada hamba-hamba-Nya pakaian
dan perhiasan untuk memperindah (penampilan) lahir mereka, dan Dia
memerintahkan kepada mereka untuk bertakwa (kepada-Nya) karena ini akan
memperindah batin mereka. Allah Ta’ala berfirman,
{يا بني آدم قد أنزلنا عليكم لباساً يواري سوآتكم وريشاً، ولباس التقوى ذلك خير}
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk
menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan, dan pakaian taqwa
itulah yang lebih baik” (QS al-A’raaf:26).
Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman tentang keadaan penduduk surga:
{ولَقَّاهُمْ نضْرَةً وسُرُوْراً، وجزاهم بما صبروا جَنَّةً وحَرِيْراً}
“Dan Dia menganugerahkan kepada mereka kecerahan (wajah) dan
kegembiraan (hati). Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena
kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera” (QS al-Insaan:12).
Maka Allah Ta’ala menghiasi wajah mereka dengan kecerahan, batin mereka dengan kegembiraan, dan tubuh mereka dengan pakaian sutera[12].
Penutup
Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah
dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha
sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita semua keindahan lahir dan
batin, di dunia dan akhirat kelak, serta memudahkan kita untuk memahami
dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar, sesungguhnya Dia
Maha Indah dan Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 3 Syawwal 1430 H
Nama Allah
Ta’ala yang maha mulia ini disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah
shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((لا يدخل الجنة من كان في قلبه
مثقالُ ذرة من كبر)). قال رجل: إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسناً ونعله
حسنةً. قال: ((إن الله جميلٌ يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس)) رواه
مسلم.
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan
seberat biji debu”. Ada seorang yang bertanya: Sesungguhnya setiap orang
suka (memakai) baju yang indah, dan alas kaki yang bagus, (apakah ini
termasuk sombong?). Rasulullah
shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu
adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”
[1].
Makna al-Jamil secara bahasa
Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah indah/bagus
[2].
Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa asal kata nama ini berarti keindahan dalam tingkah laku dan rupa
[3].
Ibnul Atsir lebih lanjut menjelaskan bahwa
al-Jamil berarti Yang Maha Indah perbuatan-perbuatan-Nya dan sempurna sifat-sifat-Nya
[4].
Penjabaran makna nama Allah al-Jamil
Nama Allah
Ta’ala yang agung ini menunjukkan sempurnanya keindahan Allah
Ta’ala pada semua nama, sifat, zat dan perbuatan-Nya
[5].
Imam an-Nawawi menjelaskan makna hadits di atas: bahwa semua urusan Allah
Ta’ala (maha) indah dan baik, dan Dia memiliki nama-nama yang maha indah serta sifat-sifat yang maha bagus dan sempurna
[6].
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan hal ini dengan terperinci dalam ucapan beliau: “Keindahan Allah
Ta’ala ada empat tingkatan:
keindahan zat, keindahan sifat, keindahan perbuatan dan keindahan nama.
Maka nama-nama Allah semuanya maha indah, sifat-sifat-Nya semuanya maha
sempurna, dan perbuatan-perbuatan-Nya semuanya (mengandung) hikmah,
kemaslahatan (kebaikan), keadilan dan rahmat (kasih sayang). Adapun
keindahan zat dan apa yang ada padanya, maka ini adalah perkara yang
tidak bisa dicapai dan diketahui oleh selain-Nya. Semua makhluk tidak
memiliki pengetahuan tentang itu kecuali (sedikit) pengetahuan yang
dengan itulah Dia memperkenalkan dirinya kepada hamba-hamba yang
dimuliakan-Nya. Sesungguhnya keindahan-Nya itu terjaga dari (segala
bentuk) perubahan, terlindungi dengan tabir selendang dan sarung
(kemuliaan), sebagaimana hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah (
hadits qudsi), “Kebesaran itu adalah selendang-Ku dan keagungan itu adalah sarung-Ku…”
[7]. Maka bagaimana anggapanmu terhadap keindahan yang ditutupi dengan sifat-sifat kesempurnaan, keagungan dan kemuliaan?
Dari makna inilah kita dapat memahami sebagian arti keindahan
zat-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba akan terus meningkat
(pengetahuannya tentang Allah
Ta’ala), dari mengenal
perbuatan-perbuatan-Nya (meningkat) menjadi mengenal sifat-sifat-Nya,
dan dari mengenal sifat-sifat-Nya (meningkat) menjadi mengenal zat-Nya.
Maka jika dia menyaksikan sesuatu (yang merupakan pengaruh baik) dari
keindahan perbuatan-Nya, dia akan menjadikannya sebagai (argumentasi)
yang menunjukkan keindahan sifat-Nya, kemudian keindahan sifat ini
dijadikannya sebagai (argumentasi) yang menunjukkan keindahan zat-Nya.
Dari sinilah jelas (bagi kita) bahwa Allah
Ta’ala
bagi-Nyalah segala pujian, dan bahwa tidak ada seorang makhluk pun yang
mampu membatasi/menghitung sanjungan bagi-Nya, bahkan Dia adalah seperti
pujian yang ditujukan-Nya untuk diri-Nya sendiri. Dialah yang berhak
disembah, dicintai dan disyukuri karena zat-Nya, dan Dia mencintai,
memuji dan menyanjung diri-Nya sendiri. Sesungguhnya kecintaan, pujian,
sanjungan dan pengesaan-Nya terhadap diri-Nya sendiri, pada hakikatnya
itulah pujian, sanjungan, cinta dan
tauhid (yang sebenarnya). Maka Allah
Ta’ala
adalah seperti pujian yang ditujukan-Nya untuk diri-Nya sendiri dan di
atas pujian yang ditujukan makhluk-Nya kepada-Nya, Dan Allah
Ta’ala
dicintai zat, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua
perbuatan-Nya indah dan dicintai, meskipun diantara obyek perbuatan-Nya
ada yang dibenci dan tidak disukai-Nya, akan tetapi tidak ada pada
perbuatan-Nya sesuatu yang dibenci dan dimurkai. Tidak ada satupun di
alam ini yang dicintai, dipuji karena zatnya kecuali Allah
Ta’ala.
Dan semua yang dicintai selain-Nya, jika kecintaan tersebut mengikui
kecintaan kepada-Nya, yaitu dengan mencintainya karena-Nya, maka
kecintaan ini adalah kecintaan yang benar. Adapun selain itu adalah
kecintaan yang batil (salah).
Inilah hakikat
ilahiyyah (penghambaan diri kepada-Nya),
karena sembahan yang benar dialah yang dicintai dan dipuji zat-Nya.
Terlebih lagi jika semua itu digandengkan dengan (mengingat dan
menyakini) kebaikan, limpahan nikmat, kelembutan, pengampunan, pemaafan,
anugerah dan rahmat-Nya.
Maka seorang hamba hendaknya memahami bahwa tidak ada sembahan yang
benar kecuali Allah, maka dia mencintai dan memuji-Nya karena zat dan
kesempurnaan-Nya. Dan hendaknya dia mengetahui bahwa pada hakikatnya
tidak ada yang melakukan kebaikan (kepadanya) dengan (melimpahkan)
berbagai macam nikmat lahir dan batin, kecuali Allah (
Ta’ala),
maka dia mencintai-Nya karena kebaikan dan limpahan nikmat-Nya, dan
memuji-Nya atas semua itu. Maka dia mencintai Allah dari kedua segi itu
secara bersamaan.
Sebagaimana Allah (
Ta’ala) tidak ada sesuatu pun yang
meyerupai-Nya, maka kecintaan kepada-Nya tidak seperti kecintaan kepada
selain-Nya. Dan kecintaan yang disertai ketundukan itulah (hakikat)
penghambaan diri (kepada-Nya), yang untuk tujuan inilah Allah
menciptakan (semua) makhluk-Nya. Karena
ubudiyyah (penghambaan
diri) adalah kecintaan yang utuh disertai ketundukan yang sempurna, yang
ini semua tidak pantas ditujukan kecuali kepada Allah
Ta’ala (semata-mata). Dan menyekutukan-Nya dalam hal ini adalah perbuatan
syirik yang tidak diampuni-Nya dan tidak diterima amal perbuatan pelakunya”
[8].
Di tempat lain, beliau berkata, “Kecintaan itu memiliki dua (sebab)
yang membangkitkannya, (yaitu) keindahan dan pengagungan, dan Allah
Ta’ala
memiliki kesempurnaan yang mutlak pada semua itu, karena Dia Maha Indah
dan mencintai keindahan, bahkan semua keindahan adalah milik-Nya, dan
semua pengagungan (bersumber) dari-Nya, sehingga tidak ada sesuatupun
yang berhak untuk dicintai dari semua segi karena zatnya kecuali Allah
Ta’ala “
[9].
Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah al-Jamil
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk jenis pengetahuan yang paling mulia adalah mengenal Allah
Ta’ala dengan (sifat)
al-jamal
(maha indah). Ini adalah pengetahuan (yang dimiliki) hamba-hamba
(Allah) yang istimewa. Semua manusia mengenal-Nya dengan satu sifat dari
semua sifat-Nya, akan tetapi yang paling sempurna pengetahuannya
(tentang Allah
Ta’ala) adalah yang mengenal-Nya dengan (sifat)
kesempurnaan, keagungan dan keindahan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan-Nya dalam semua sifat-sifat-Nya. Seandainyapun semua
makhluk memiliki rupa yang paling indah, kemudian keindahan mereka lahir
dan batin dibandingkan dengan keindahan Allah
Ta’ala, maka
sungguh (perbandingannya) lebih rendah dari pada perbandingan pelita
yang redup (cahayanya) dengan (terangnya cahaya) lingkaran matahari …
Cukuplah (yang menunjukkan kesempurnaan) keindahan-Nya bahwa semua
keindahan lahir dan batin di dunia dan akhirat adalah termasuk
jejak-jejak penciptaan-Nya, maka bagaimana pula dengan zat yang
bersumber darinya (semua) keindahan ini?”
[10].
Kemudian, pengaruh positif mengimani nama Allah yang maha agung ini dapat kita ambil dari penjelasan makna
hadits di atas.
Sabda Rasululah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya
Allah Maha Indah dan mencintai keindahan”, mengandung dua unsur
landasan Islam yang agung, yaitu pengetahuan tentang sifat Allah
Ta’ala dan pengamalan konsekwensi dari sifat tersebut. Yang pertama kita mengenal Allah
Ta’ala dengan sifat maha indah yang tidak ada satu makhlukpun menyerupainya, kemudian yang kedua kita beribadah kepada Allah
Ta’ala dengan sifat indah yang dicintai-Nya, dalam ucapan, perbuatan dan
akhlak.
Allah
Ta’ala mencintai seorang hamba yang
memperindah/menghiasi ucapannya dengan kejujuran, hatinya dengan
keikhlasan, kecintaan, selalu kembali dan bertawakkal (kepada-Nya), dan
anggota badannya dengan ketaatan (kepada-Nya), serta tubuhnya dengan
memperlihatkan nikamat yang dianugrahkan-Nya kepadanya, dalam
berpakaian, membersihkan tubuh dari najis dan kotoran, memotong kuku,
dan sebagainya. Maka hamba yang dicintai-Nya adalah hamba yang
mengenal-Nya dengan sifat maha indah-Nya kemudian beribadah kepada-Nya
dengan keindahan yang ada pada agama dan syariat-Nya.
Hadits di atas maknanya meliputi keindahan pada pakaian dan alas kaki
yang ditanyakan oleh sahabat di atas, juga maknanya secara umum
meliputi keindahan pada segala sesuatu. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“إن الله يحب أن يرى أثر نعمته على عبده”
“Sesungguhnya Allah suka melihat (tampaknya) bekas nikmat (yang dilimpahkan-Nya) kepada hamba-Nya”
[11].
Maka Allah
Ta’ala suka melihat (tampaknya) bekas nikmat
(yang dilimpahkan-Nya) kepada hamba-Nya, karena ini termasuk keindahan
yang dicintai-Nya, dan ini termasuk bentuk syukur kepada-Nya atas
limpahan nikmat-Nya. Bersyukur adalah bentuk keindahan dalam batin, maka
Allah
Ta’ala suka melihat pada diri hamba-Nya keindahan lahir yang berupa tampaknya bekas nikmat-Nya pada diri hamba-Nya.
Oleh karena itulah, Allah menurunkan kepada hamba-hamba-Nya pakaian
dan perhiasan untuk memperindah (penampilan) lahir mereka, dan Dia
memerintahkan kepada mereka untuk bertakwa (kepada-Nya) karena ini akan
memperindah batin mereka. Allah
Ta’ala berfirman,
{يا بني آدم قد أنزلنا عليكم لباساً يواري سوآتكم وريشاً، ولباس التقوى ذلك خير}
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk
menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan, dan pakaian taqwa
itulah yang lebih baik” (QS al-A’raaf:26).
Dalam ayat lain Allah
Ta’ala berfirman tentang keadaan penduduk surga:
{ولَقَّاهُمْ نضْرَةً وسُرُوْراً، وجزاهم بما صبروا جَنَّةً وحَرِيْراً}
“Dan Dia menganugerahkan kepada mereka kecerahan (wajah) dan
kegembiraan (hati). Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena
kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera” (QS al-Insaan:12).
Maka Allah
Ta’ala menghiasi wajah mereka dengan kecerahan, batin mereka dengan kegembiraan, dan tubuh mereka dengan pakaian sutera
[12].
Penutup
Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah
dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha
sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita semua keindahan lahir dan
batin, di dunia dan akhirat kelak, serta memudahkan kita untuk memahami
dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar, sesungguhnya Dia
Maha Indah dan Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, 3 Syawwal 1430 H
Penulis:
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Nama Allah
Ta’ala yang maha mulia ini disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abdullah bin Mas’ud
radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah
shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((لا يدخل الجنة من كان في قلبه
مثقالُ ذرة من كبر)). قال رجل: إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسناً ونعله
حسنةً. قال: ((إن الله جميلٌ يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس)) رواه
مسلم.
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan
seberat biji debu”. Ada seorang yang bertanya: Sesungguhnya setiap orang
suka (memakai) baju yang indah, dan alas kaki yang bagus, (apakah ini
termasuk sombong?). Rasulullah
shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu
adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”
[1].
Makna al-Jamil secara bahasa
Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah indah/bagus
[2].
Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa asal kata nama ini berarti keindahan dalam tingkah laku dan rupa
[3].
Ibnul Atsir lebih lanjut menjelaskan bahwa
al-Jamil berarti Yang Maha Indah perbuatan-perbuatan-Nya dan sempurna sifat-sifat-Nya
[4].
Penjabaran makna nama Allah al-Jamil
Nama Allah
Ta’ala yang agung ini menunjukkan sempurnanya keindahan Allah
Ta’ala pada semua nama, sifat, zat dan perbuatan-Nya
[5].
Imam an-Nawawi menjelaskan makna hadits di atas: bahwa semua urusan Allah
Ta’ala (maha) indah dan baik, dan Dia memiliki nama-nama yang maha indah serta sifat-sifat yang maha bagus dan sempurna
[6].
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan hal ini dengan terperinci dalam ucapan beliau: “Keindahan Allah
Ta’ala ada empat tingkatan:
keindahan zat, keindahan sifat, keindahan perbuatan dan keindahan nama.
Maka nama-nama Allah semuanya maha indah, sifat-sifat-Nya semuanya maha
sempurna, dan perbuatan-perbuatan-Nya semuanya (mengandung) hikmah,
kemaslahatan (kebaikan), keadilan dan rahmat (kasih sayang). Adapun
keindahan zat dan apa yang ada padanya, maka ini adalah perkara yang
tidak bisa dicapai dan diketahui oleh selain-Nya. Semua makhluk tidak
memiliki pengetahuan tentang itu kecuali (sedikit) pengetahuan yang
dengan itulah Dia memperkenalkan dirinya kepada hamba-hamba yang
dimuliakan-Nya. Sesungguhnya keindahan-Nya itu terjaga dari (segala
bentuk) perubahan, terlindungi dengan tabir selendang dan sarung
(kemuliaan), sebagaimana hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah (
hadits qudsi), “Kebesaran itu adalah selendang-Ku dan keagungan itu adalah sarung-Ku…”
[7]. Maka bagaimana anggapanmu terhadap keindahan yang ditutupi dengan sifat-sifat kesempurnaan, keagungan dan kemuliaan?
Dari makna inilah kita dapat memahami sebagian arti keindahan
zat-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba akan terus meningkat
(pengetahuannya tentang Allah
Ta’ala), dari mengenal
perbuatan-perbuatan-Nya (meningkat) menjadi mengenal sifat-sifat-Nya,
dan dari mengenal sifat-sifat-Nya (meningkat) menjadi mengenal zat-Nya.
Maka jika dia menyaksikan sesuatu (yang merupakan pengaruh baik) dari
keindahan perbuatan-Nya, dia akan menjadikannya sebagai (argumentasi)
yang menunjukkan keindahan sifat-Nya, kemudian keindahan sifat ini
dijadikannya sebagai (argumentasi) yang menunjukkan keindahan zat-Nya.
Dari sinilah jelas (bagi kita) bahwa Allah
Ta’ala
bagi-Nyalah segala pujian, dan bahwa tidak ada seorang makhluk pun yang
mampu membatasi/menghitung sanjungan bagi-Nya, bahkan Dia adalah seperti
pujian yang ditujukan-Nya untuk diri-Nya sendiri. Dialah yang berhak
disembah, dicintai dan disyukuri karena zat-Nya, dan Dia mencintai,
memuji dan menyanjung diri-Nya sendiri. Sesungguhnya kecintaan, pujian,
sanjungan dan pengesaan-Nya terhadap diri-Nya sendiri, pada hakikatnya
itulah pujian, sanjungan, cinta dan
tauhid (yang sebenarnya). Maka Allah
Ta’ala
adalah seperti pujian yang ditujukan-Nya untuk diri-Nya sendiri dan di
atas pujian yang ditujukan makhluk-Nya kepada-Nya, Dan Allah
Ta’ala
dicintai zat, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Semua
perbuatan-Nya indah dan dicintai, meskipun diantara obyek perbuatan-Nya
ada yang dibenci dan tidak disukai-Nya, akan tetapi tidak ada pada
perbuatan-Nya sesuatu yang dibenci dan dimurkai. Tidak ada satupun di
alam ini yang dicintai, dipuji karena zatnya kecuali Allah
Ta’ala.
Dan semua yang dicintai selain-Nya, jika kecintaan tersebut mengikui
kecintaan kepada-Nya, yaitu dengan mencintainya karena-Nya, maka
kecintaan ini adalah kecintaan yang benar. Adapun selain itu adalah
kecintaan yang batil (salah).
Inilah hakikat
ilahiyyah (penghambaan diri kepada-Nya),
karena sembahan yang benar dialah yang dicintai dan dipuji zat-Nya.
Terlebih lagi jika semua itu digandengkan dengan (mengingat dan
menyakini) kebaikan, limpahan nikmat, kelembutan, pengampunan, pemaafan,
anugerah dan rahmat-Nya.
Maka seorang hamba hendaknya memahami bahwa tidak ada sembahan yang
benar kecuali Allah, maka dia mencintai dan memuji-Nya karena zat dan
kesempurnaan-Nya. Dan hendaknya dia mengetahui bahwa pada hakikatnya
tidak ada yang melakukan kebaikan (kepadanya) dengan (melimpahkan)
berbagai macam nikmat lahir dan batin, kecuali Allah (
Ta’ala),
maka dia mencintai-Nya karena kebaikan dan limpahan nikmat-Nya, dan
memuji-Nya atas semua itu. Maka dia mencintai Allah dari kedua segi itu
secara bersamaan.
Sebagaimana Allah (
Ta’ala) tidak ada sesuatu pun yang
meyerupai-Nya, maka kecintaan kepada-Nya tidak seperti kecintaan kepada
selain-Nya. Dan kecintaan yang disertai ketundukan itulah (hakikat)
penghambaan diri (kepada-Nya), yang untuk tujuan inilah Allah
menciptakan (semua) makhluk-Nya. Karena
ubudiyyah (penghambaan
diri) adalah kecintaan yang utuh disertai ketundukan yang sempurna, yang
ini semua tidak pantas ditujukan kecuali kepada Allah
Ta’ala (semata-mata). Dan menyekutukan-Nya dalam hal ini adalah perbuatan
syirik yang tidak diampuni-Nya dan tidak diterima amal perbuatan pelakunya”
[8].
Di tempat lain, beliau berkata, “Kecintaan itu memiliki dua (sebab)
yang membangkitkannya, (yaitu) keindahan dan pengagungan, dan Allah
Ta’ala
memiliki kesempurnaan yang mutlak pada semua itu, karena Dia Maha Indah
dan mencintai keindahan, bahkan semua keindahan adalah milik-Nya, dan
semua pengagungan (bersumber) dari-Nya, sehingga tidak ada sesuatupun
yang berhak untuk dicintai dari semua segi karena zatnya kecuali Allah
Ta’ala “
[9].
Pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allah al-Jamil
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Termasuk jenis pengetahuan yang paling mulia adalah mengenal Allah
Ta’ala dengan (sifat)
al-jamal
(maha indah). Ini adalah pengetahuan (yang dimiliki) hamba-hamba
(Allah) yang istimewa. Semua manusia mengenal-Nya dengan satu sifat dari
semua sifat-Nya, akan tetapi yang paling sempurna pengetahuannya
(tentang Allah
Ta’ala) adalah yang mengenal-Nya dengan (sifat)
kesempurnaan, keagungan dan keindahan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan-Nya dalam semua sifat-sifat-Nya. Seandainyapun semua
makhluk memiliki rupa yang paling indah, kemudian keindahan mereka lahir
dan batin dibandingkan dengan keindahan Allah
Ta’ala, maka
sungguh (perbandingannya) lebih rendah dari pada perbandingan pelita
yang redup (cahayanya) dengan (terangnya cahaya) lingkaran matahari …
Cukuplah (yang menunjukkan kesempurnaan) keindahan-Nya bahwa semua
keindahan lahir dan batin di dunia dan akhirat adalah termasuk
jejak-jejak penciptaan-Nya, maka bagaimana pula dengan zat yang
bersumber darinya (semua) keindahan ini?”
[10].
Kemudian, pengaruh positif mengimani nama Allah yang maha agung ini dapat kita ambil dari penjelasan makna
hadits di atas.
Sabda Rasululah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya
Allah Maha Indah dan mencintai keindahan”, mengandung dua unsur
landasan Islam yang agung, yaitu pengetahuan tentang sifat Allah
Ta’ala dan pengamalan konsekwensi dari sifat tersebut. Yang pertama kita mengenal Allah
Ta’ala dengan sifat maha indah yang tidak ada satu makhlukpun menyerupainya, kemudian yang kedua kita beribadah kepada Allah
Ta’ala dengan sifat indah yang dicintai-Nya, dalam ucapan, perbuatan dan
akhlak.
Allah
Ta’ala mencintai seorang hamba yang
memperindah/menghiasi ucapannya dengan kejujuran, hatinya dengan
keikhlasan, kecintaan, selalu kembali dan bertawakkal (kepada-Nya), dan
anggota badannya dengan ketaatan (kepada-Nya), serta tubuhnya dengan
memperlihatkan nikamat yang dianugrahkan-Nya kepadanya, dalam
berpakaian, membersihkan tubuh dari najis dan kotoran, memotong kuku,
dan sebagainya. Maka hamba yang dicintai-Nya adalah hamba yang
mengenal-Nya dengan sifat maha indah-Nya kemudian beribadah kepada-Nya
dengan keindahan yang ada pada agama dan syariat-Nya.
Hadits di atas maknanya meliputi keindahan pada pakaian dan alas kaki
yang ditanyakan oleh sahabat di atas, juga maknanya secara umum
meliputi keindahan pada segala sesuatu. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“إن الله يحب أن يرى أثر نعمته على عبده”
“Sesungguhnya Allah suka melihat (tampaknya) bekas nikmat (yang dilimpahkan-Nya) kepada hamba-Nya”
[11].
Maka Allah
Ta’ala suka melihat (tampaknya) bekas nikmat
(yang dilimpahkan-Nya) kepada hamba-Nya, karena ini termasuk keindahan
yang dicintai-Nya, dan ini termasuk bentuk syukur kepada-Nya atas
limpahan nikmat-Nya. Bersyukur adalah bentuk keindahan dalam batin, maka
Allah
Ta’ala suka melihat pada diri hamba-Nya keindahan lahir yang berupa tampaknya bekas nikmat-Nya pada diri hamba-Nya.
Oleh karena itulah, Allah menurunkan kepada hamba-hamba-Nya pakaian
dan perhiasan untuk memperindah (penampilan) lahir mereka, dan Dia
memerintahkan kepada mereka untuk bertakwa (kepada-Nya) karena ini akan
memperindah batin mereka. Allah
Ta’ala berfirman,
{يا بني آدم قد أنزلنا عليكم لباساً يواري سوآتكم وريشاً، ولباس التقوى ذلك خير}
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk
menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan, dan pakaian taqwa
itulah yang lebih baik” (QS al-A’raaf:26).
Dalam ayat lain Allah
Ta’ala berfirman tentang keadaan penduduk surga:
{ولَقَّاهُمْ نضْرَةً وسُرُوْراً، وجزاهم بما صبروا جَنَّةً وحَرِيْراً}
“Dan Dia menganugerahkan kepada mereka kecerahan (wajah) dan
kegembiraan (hati). Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena
kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera” (QS al-Insaan:12).
Maka Allah
Ta’ala menghiasi wajah mereka dengan kecerahan, batin mereka dengan kegembiraan, dan tubuh mereka dengan pakaian sutera
[12].
Penutup
Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah
dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha
sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita semua keindahan lahir dan
batin, di dunia dan akhirat kelak, serta memudahkan kita untuk memahami
dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar, sesungguhnya Dia
Maha Indah dan Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, 3 Syawwal 1430 H
Penulis:
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Dari artikel '
Al Jamil, Yang Maha Indah — Muslim.Or.Id