Selasa, 20 Desember 2011

.Kisah Cinta Inggit dan Soekarno (1)

Kisah Cinta Inggit dan Soekarn0

OPINI | 11 June 2011 | 11:48 456 1 Nihil

“Dedicated to My Big Love”
Kisah Cinta Inggit dan Soekarno
“Di balik kesuksesan seorang pria, ada wanita kuat dan istimewa di belakangnya”
Petikan kalimat mutiara yang tersebut di atas bukanlah mengada-ada, bukanlah sekedar kalimat tanpa makna. Telah banyak kisah-kisah kesuksesan, cerita-cerita kepahlawanan yang semakin membuktikan dan memperkuat kalimat mutiara itu. Salah satunya adalah kisah dari pasangan Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno Pemimpin Besar Revolusi dan Ibu Inggit Ganarsih the real first lady of Indonesia.
Peran Inggit Ganarsih sangat besar dalam proses pembentukan Soekarno hingga menjadi seorang yang sangat disegani dan dihormati di Indonesia dan juga di mata dunia internasional. Namun demikian, sosok Inggit Ganarsih jarang dikupas-jarang diekspos. Seolah-olah, orang-orang dan sejarah melupakan Inggit Ganarsih. Akan tetapi, saya yakin 100% bahwa nanti sejarah dan angkasa raya akan menyayangi dan melantunkan bait doa-doa serta menyanyikan syair puji-pujian kepada Inggit Ganarsih. Istri Soekarno yang paling penting yang membentuk Soekarno menjadi pemimpin dan pejuang tangguh serta mengantarkannya ke gerbang kejayaan.
Kisah cinta Inggit dengan Soekarno dimulai ketika Soekarno pindah dari Surabaya ke Bandung. Soekarno hendak meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di Technische Hogeschool/Sekolah Tinggi Teknik, sekarang menjadi Institut Teknologi Bandung. Berbekal surat dari H.O.S Cokroaminoto yang ditujukan kepada salah seorang pengurus Sarekat Islam: Haji Sanusi, pada bulan Juni 1921 Soekarno muda berangkat menggunakan kereta api ke Bandung.
Menenteng sebuah tas dan mengenakan peci hitam Soekarno turun di Stasiun Bandung. Haji Sanusi sahabat Cokroaminoto sudah menunggu. Dengan menggunakan delman mereka berdua menuju ke rumah Haji Sanusi. Di pintu rumah, Soekarno disambut oleh Inggit yang lansung mengambil hati Soekarno. Soekarno berkata dalam otobiagrafinya (Sukarno, an autobiography as told to Cindy Adams):
berdiri di pintu masuk dalam sinar setengah gelap, bentuk badannya nampak jelas dikelilingi oleh cahaya lampu dari belakang. Perawakannya kecil, sekuntum bunga mawar merah yang cantik melekat di sanggulnya dan suatu senyum yang menyilaukan mata..segala percikan api, yang dapat memancar dari seorang anak dua puluh tahun dan masih hijau tak berpengalaman, menyambar-nyambar kepada seorang perempuan dalam umur tigapuluhan yang sudah matang dan berpengalaman”.
Inggit pun mengenang kesannya tentang pemuda Soekarno, dan menceritakan:

Sejak bertemu dan bersalaman, pemuda itu sudah menyenangkan. Ia gampang bergaul dan mau menerima apa yang aku hidangkan dengan roman muka yang menggembirakan…setelah itu percakapan pun menghidupi rumah kami. Ia benar-benar orang yang periang, jauh periang dibandingkan dengan suamiku”. 

Inikah yang dinamakan dengan ‘cinta pada pandangan pertama’? jika ya, ini sunggulah merupakan suatu kisah cinta yang romantis. Is this ‘love at the first sight’? if yes, this is absolutely a very romantic love story.

Pada awal kedatangan Soekarno, Haji Sanusi menghabiskan waktunya di sore hari bercakap-cakap dengan penghuni baru dirumahnya. Akan tetapi lama-kelamaan Sanusi jarang ada di rumah. Akhirnya Soekarno mengetahui bahwa Sanusi kembali kebiasaannya yaitu main biliar. Hampir setiap malam ia pulang ketika waktu sudah hampir pagi. Soekarno melihat ketidak-harmonisan hubungan suami-istri antara Sanusi dengan Inggit.

Ketika Sanusi sedang bermain biliar, di rumah hanya ada Soekarno dan Inggit yang masih terjaga melalui malam-malam yang sepi. Inggit tidak jemu menemani Soekarno yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Inggit membuatkan kopi untuk mengusir rasa kantuk agar Soekarno dapat menyelesaikan tugasnya sebelum tidur.

Soekarna mengenang hal itu: “Inggit dan aku berada bersama-sama setiap malam. Aku adalah orang yang selalu bangun dan membaca. Inggit pun lambat pergi tidur, karena harus menyiapkan makan untuk hari berikutnya. Dia selalu ada di sekelilingku. Dia adalah nyonya rumah. Aku orang bayar-makan. Kami berteduh di bawah atap yang sama. Aku melihatnya di pagi hari sebelum ia menggelung rambutnya. Dia melihatku dalam pakaian piyama. Aku senantiasa makan bersama dia.”

Oh, alangkah “Indah” nya, berawal dari cinta pandangan pertama, kemudian rasa cinta, benih cinta itu semakin menguat seiring berjalannya waktu. It came naturaly…”Beri sedikit waktu karena cinta datang karena telah terbiasa”… Awal mendengar lagu Dewa itu, saya kurang percaya. Tetapi seiring berjalannya waktu dan setelah menuliskan kisah cinta Inggit dan Soekarno, tentunya membawa perubahan dalam pemahaman saya tentang “cinta yang datang karena telah terbiasa”.

Pada masa mudanya Soekarno, jikalau harus memilih antara wanita yang memiliki tangan yang cantik dan wanita yang memiliki hati yang lembut, maka Soekarno memilih wanita yang memiliki hati yang lembut. Itulah yang diakui oleh Soekarno dalam otobiografinya.

“Soekarno tidak lebih mengutamakan hubungan lelaki-perempuan, akan tetapi ia memerlukan hati yang lembut dan dorongan yang besar dan mulia yang hanya dapat diberikan oleh hati seorang wanita”. Itu semua ada di dalam hati Inggit Ganarsih.

Soekarno mengakui: “Dia (Inggit) memberiku kecintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri. Ia memberikan segala apa yang kuperlukan yang tidak dapat kuperoleh semenjak aku meninggalkan rumah ibu”.

Pada suatu malam, setelah mereka bersama-sama selama setahun, hanya ada Inggit dan Soekarno. Kemudian tiba waktunya bagi Inggit dan Soekarno untuk saling mengungkapkan perasaan yang ada di dalam hati mereka. Tentang cinta yang selama ini terpendam, tentang cinta yang belum terungkap. Sudah lama Inggit dan Soekarno terdiam tentang cinta mereka berdua, tenggelam dalam gelisah yang tidak tereda. Saya jadi teringat sebuah lagu: “Duhai cintaku, sayangku, lepaskanlah perasaanmu, rindumu, seluruh cintamu. Dan kini hanya ada aku dan dirimu, sesaat di keabadian”.

Soekarno bicara dengan perlahan: “Aku mencintaimu”
Inggit segera membalas dengan cepat: “Aku pun begitu”
Kemudian Soekarno berbisik: “Aku ingin mengawinimu”
Inggit membalas berbisik: “Aku pun ingin menjadi istrimu”
Dan Soekarno bertanya: “Apakah menurut pendapatmu kita akan mendapat kesulitan?”
Inggit menjawab: “Tidak, Aku akan bicara dengan Sanusi besok”.

.........(bersambung).....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar