Rabu, 27 Februari 2013

DOUWES DEKKER

Nama lengkapnya Ernest Eugene Douwes Dekker atau Danudirdja Setia Budi. Lahir di Pasuruan, 8 Oktober 1879. Pendidikan HBS, Universitas Zurich Swiss.

Ia adalah seorang Indo yang dijuluki Penjahat Internasional karena sikapnya yang terang-terangan menentang agresi bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa Asia dan Afrika.

Di masa perjuangan, ia dikenal sebagai orang yang pertama kali mencanangkan semboyan 'Indie Los Van Holland' (Indonesia lepas dari Negri Belanda).

Dalam membantu menghindari kaum lemah dari penindasan golongan penguasa dengan cara terjun ke dunia jurnalistik dan menggunakan media untuk menyebarkan gagasan-gagasannya.

Awalnya ia menjadi wartawan bebas sampai menerbitkan majalah sendiri. Tahun 1910 di Bandung ia menerbitkan majalah "Het Tajdeschrift" yang menjelaskan cita-cita politiknya yang mendapat sambutan cukup luas.

Tanggal 1 Maret 1912 ia menerbitkan "De Express" yang terkenal bernada tajam dan tidak jemu-jemu menyerang dan menentang politik penjajahan Belanda.

Harian itu menjadi sarana bagi pemuda-pemuda Indonesia untuk mengemukakan buah pikiran mereka mengenai perjuangan membebaskan bangsa dan penjajahan.

Dalam perjuangannya, tahun 1972 ia mengontak Dr.Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Tanggal 25 Desember 1925 mereka mendirikan "Indische Partij" yang tujuannya mempersatukan bangsa dan mencapai kemerdekaan.

Tahun 1913, Pemerintah Hindia Belanda bermaksud mengadakan peringatan "100 Tahun bebasnya Negeri Belanda dari penjajahan Perancis". Peringatan tersebut akan diadakan secara besar-besaran dalam bulan Nopember 1913 dibentuklah komite yang bernama "Komite Bumi Putra" oleh Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, Abdul Muis dan Wignyadisastra.

Komite mendesak agar Pemerintah secepatnya mengadakan perubahan dalam hubungan kolonial membentuk Parlemen dan meningkatkan usaha mencerdaskan rakayat. Suwardi Suryaningrat menulis brosur berjudul "Als Ik een Nederlanderwas" (seandainya aku seorang Belanda). Dr. Tjipto menulis dalam "De Express" artikel "Kracht of Vress"(kekuatan dan ketakutan). Pemerintah Belanda gempar, Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, Abdul Muis dan Wigyadisastra ditangkap dan dipenjarakan.


Setia Budi yang baru pulang dari Negri Belanda menulis karangan yang menyanjung Tjipto, Suwardi sebagai Pahlawan kita Tulisan itu menjadi alasan Pemerintah menangkap dan menahannya.

Abdul Muis dan Wignyadisastra dibebaskan namun Suwardi, Tjipto dan Setiabudi dijatuhi hukuman buang di alam negri dan berdasarkan permintaan mereka diubah dibuang ke negri Belanda. Selama berada di luar negri Setiabudi berhasil mendapatkan akte Guru Eropa.

Ketika Agresi Belanda akhir 1948 ia ditangkap di Kaliurang, kemudian dipenjara di Wirogunan-Yogyakarta dan tanggal 2 Desember 1948 dipindahkan ke Jakarta. Setelah pengakuan kedaulatan RI, ia bersama tokoh-tokoh RI dibebaskan. Selama + 40 tahun ia berjuang untuk kemerdekaan tanah air Indonesia, mengalami siksaan, hinaan yang luar biasa termasuk hidupnya selama 17 tahun dipenjara.

Tanggal 28 Agustus 1950 ia meninggal dunia dan Pemerintah RI menganugerahinya Gelar Pahlawan Kemerdekaan Kemerdekaan Nasional.

Jika Setia Budi dan kaum intelektual kala itu mampu menyumbangkan keintelektualannya untuk negri ini, bagaimana dengan keintelektualan kita sekarang. Rasa intelektualnya sih masih melekat, namun apa yang sudah kita perbuat ? Bila sudah begini, apakah masih layak disebut kaum intelektual? Jawabannya, ada pada diri kita sendiri tentunya !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar