Rabu, 09 Januari 2013

BADAI KATRINA DI AMERIKA

DUA pekan sudah badai Katrina menghempas dan menenggelamkan kawasan New Orleans, Mississippi, dan Florida, tiga Negara Bagian di Amerika Serikat. Hingga Senin, 12 September 2005, diperkirakan jumlah korban yang meninggal akibat badai bernama indah yang menjebolkan bendungan di Louisiana itu, mencapai 10 ribu orang.

TAK bisa diingkari bahwa seluruh peristiwa di atas muka bumi ini tetaplah menjadi rahasia Sang Maha Penguasa, Allah SWT. Untuk negara sebesar Amerika Serikat yang membantu Indonesia dalam musibah gempa dan tsunami di Tanah Rencong, Aceh, seperti "kecolongan" ketika badai Katrina yang menerpa Teluk Coast menghempas negaranya.

Bila menonton The Day After Tomorrow, Twister, Vulcano, Hight Explosive, 12 SR, Tsunami Dam, negara adi daya itu seakan mampu "membendung" badai apa pun dengan teknologi yang mereka kuasai. Mereka dapat mengurangi gempa yang berkekuatan 12 SR dengan menanamkan nuklir di beberapa sudut wilayah yang akan dilalui gempa. Mereka mampu menahan laju badai es yang akan menangkupi seluruh New York. Mereka dapat menghalau badai topan dengan menembakkan nuklir. Itu dalam film.

Tapi menghadapi badai Katrina, Amerika tidak mampu berbuat apa-apa. Korban 10.000 lantaran bendungan yang jebol membuat negara adi daya itu kehilangan daya.
Karena besarnya badai tersebut, hampir semua televisi dan media massa di Amerika membuat running news, liputan bersambung tentang Katrina hingga kini. Musibah ini bahkan hanya menyisakan sedikit waktu untuk peringatan Black September, 11 September 2001 ketika gedung WTC di New York runtuh akibat terorisme. Presiden Bush bahkan membuat peringatan"silence" atau diam untuk peristiwa yang dikenal dengan tragedi 911 empat tahun silam itu.

?Harus diakui kami memang tidak siap menerima badai Katrina,? ujar Elizabeth Dugan, Vice President International Republican Institute (IRI), kantor IRI di Washington Distric of Columbia (DC), Senin, 12 September 2005. Pemerintahan Presiden Goerge W Bush Junior pun mendapat kecaman dari masyarakat Amerika karena dianggap tak tanggap mengambil tindakan. Padahal sudah ketiga kalinya, Bush berkunjung ke New Orleans untuk melihat kondisi terakhir pascakatrina sejak 12 hari terjadi. Namun kritik tak pernah berhenti.

Membandingkan tsunami yang terjadi di Aceh Darussalam, Katrina memang belum sedahsyat nasib yang menimpa rakyat Aceh di ujung Barat Negara Kesatuan Republik Indonesia itu. Tetapi kepedulian Amerika terhadap Aceh, luar biasa besarnya. Amerika bahkan melabuhkan kapal induknya Abraham Lincoln untuk membantu rakyat Aceh. Ironisnya, beberapa kali dalam siaran televisi setempat, mereka terus-menerus mencari sukarelawan yang mau membantu masyarakat New Orleans. Belum lagi isu rasis yang merebak akibat peristiwa itu. Karena rata-rata mereka yang tertinggal adalah masyarakat miskin kota dan berkulit hitam. Sementara itu, warga kaya di daerah tersebut sudah meninggalkan tempat ketika badai Katrina belum terjadi. Padahal media massa setempat berkali-kali menyampaikan prediksi akan ada badai dengan tingkat lima, tanda badai yang dahsyat. "Namun, badai yang ternyata hanya tingkat tiga itu pun, tidak bisa terkendalikan oleh kami," ujar Dugan. Hal itu menjadi kecaman bagi pemerintahan Bush.

Sebenarnya, bencana alam seperti badai Katrina yang bukan pertama kali ini terjadi di USA. Tahun lalu, tepatnya 16 September 2004, badai Ivan melanda yang menyebabkan kematian 57 orang, dan kerugian USD14,7 miliar. Sebulan sebelumnya, pada Agustus 2004, badai Charley menyerang dan mengakibatkan 31 orang meninggal dunia dan kerugian sebesar USD15,5 miliar. Kemudian badai tropical Allison terjadi pada Juni 2001, yang menyebabkan 22 meninggal dan kerugian USD5,5 miliar.

Badai Floyd pada 16 September 1999, menyebabkan kematian 56 orang dan kerugian USD7 miliar.Tornado Oklahoma terjadi pada 3 Mei 1999, dengan kerugian mencapai USD1,8 miliar. Lalu banjir Grand Forks pada 18 April 1997, juga membuat kerugian USD 1,8 miliar. Gempa bumi Northridge terjadi pada 17 Januari 1994, sebanyak 57 orang meninggal dan menderita rugi USD33,8 miliar. Badai Andre pada 24 Agustus 1992, menelan korban 41 orang meninggal dan rugi sebesar USD37,6 miliar.

Meskipun demikian, dalam setiap bencana kemanusiaan, pasti saja mengetuk nurani setiap mahluk yang bernama manusia. Dugaan mengatakan, bencana ini telah berhasil menggerakkan rasa kemanusiaan masyarakat Amerika yang terdiri dari berbagai ras dan etnis itu.

Sumbangan terus mengalir melalui internet dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan masyarakat untuk membantu mereka yang tertimpa bencana. Dalam sepuluh hari saja, masyarakat sudah mengumpulkan dana hingga USD740 juta. ?berbagai sumbangan, tidak hanya dalam bentuk dana tetapi juga benda seperti pakaian, donor darah dan kerja sosial lainnya,? ujar Dugan.

Masyarakat juga menggunakan media seperti internet untuk membantu korban Katrina. John Hlinko dan Bill Mc Intyre, Vice President Grassroots Enterprise yang selalu membantu sayap kanan dalam politik Amerika itu, menjelaskan bagaimana mereka berhasil membuat masyarakat tergerak untuk melakukan kerja amal melalui internet. ?Ada yang menyediakan gedung sekolah melalui internet untuk membantu anak-anak yang kehilangan sekolahnya akibat badai ini,? ujar John di kantornya di 17th Street NW, Washington DC. Bagi John media internet menjadi sangat penting dalam membantu korban Katrina karena 50 persen masyarakat Amerika mengakses internet dalam kehidupan mereka.

Meskipun demikian, sejumlah masyarakat Amerika mengakui kelemahan dalam penanganan badai tersebut. Seperti mengakui bahwa selalu ada invisible hand yang ikut menentukan setiap peristiwa dalam kehidupan manusia.

"Amerika bukan negara tanpa kelemahan, di sisi lain, negara ini pun tetap memiliki kekurangan di antara segala kekuatannya," ujar Joe Bookbinder, officer Washington Foreign Press Center Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, pada sebuah pertemuan dengan wartawan Indonesia. Atas semua kritik yang masuk kepada pemerintahannya tetap menjadi semangat bagi pemerintahan Bush untuk menjalankan tugas mengatasi musibah Katrina sekaligus menegakkan negara demokrasi yang sudah berumur 200-an tahun ini.***

Sumber: http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=10524

Tidak ada komentar:

Posting Komentar