Senin, 21 Oktober 2013

CINTA DALAM KALIMAT (1.3)

Karena risih, aku pun menuruti ajakan Oci untuk jalan melewati jalan samping. Memutar.
Oci langsung berkata, “Makanya! Ada Didi! Jadi gue gak mau lewat sana! Tau gak? Dari tadi gue liatin, dia curi-curi pandang ke lo terus! Sialan tu anak!”
Aku hanya diam dan mengangguk kecil. Bahkan ketika Oci melihati Sella.
Pulang sekolah, aku langsung online.
Dan Rani ternyata sedang berkelahi dengan Odi di Facebook.
Rani sahabatku, aku tidak suka kalau dia melakukan kejahatan di Facebook. Jadi aku berusaha menasihatinya.
Tapi dia tidak mau mendengarku, dan malah memarahiku.

Biasanya aku akan terpancing emosi, tapi kali ini tidak. Aku diam saja.
Selalu begitu. Setiap aku berusaha menyadarkan sahabatku, pasti aku selalu gagal.
Aku jadi sedih.
Dan aku curhat pada Oci lewat SMS.
“Selalu begitu. Setiap gue berusaha nyadarin sahabat gue, gue selalu salah.”
“Kenapa?”

“Rani punya masalah. Dia yang salah. Gue berusaha nyadarin dia dengan halus, tapi dia malah jengkel. Gue emang manusia gak berguna! Gak bisa apa-apa! Semua sahabat gue selalu gue bikin jengkel! Lo juga Ci, lo gak usah temenin gue lagi.”
“Jangan gitu. Mungkin suatu saat nanti mereka akan berterimakasih sama lo.”
“Enggak akan. Semua sahabat gue selalu gue buat kecewa.”
“Gue anggap lo sahabat, tapi gue gak pernah kecewa sama lo.”
Dan gue langsung nangis. Terharu dengan kata-katanya.

“Nanti, Ci. Pas lo sadar kalau gue gak ada apa-apanya!
“Enggak.”
“Iya!”
“Enggak. Untuk apa gue curhat ke lo kalau gue gak percaya sama lo.”
Aku tambah menangis. Karena saking terharunya, aku hanya bisa membalas…
“:’(”
Kukira dia tidak membalas SMS-ku lagi. Oci memang jarang membalas SMS-ku.
Tapi dia balas..

“Senyum dong ^_^”
Astaga… dia benar-benar niat membuatku terharu dan menangis! Sebenarnya aku tidak menangis karena masalahku, tapi aku menangis karena hiburannya!
Kubalas, “Iya :) thanks.”
“Jangan pernah bilang begitu lagi, oke?”
Dan aku tidak bisa membalas SMSnya lagi saking terharunya.
Sejak itu, aku merasa aneh setiap berada di dekat Oci. Apalagi, karena kakak-kakak kelas semakin gencar mengejekku.

Tapi aku tidak bisa lama-lama bersedih, karena sebentar lagi ada perkemahan pramuka! Yes! Aku bisa jauh-jauh dari Oci dan juga kakak-kakak kelas!
Akhirnya perkemahan pun datang.
Dan aku benar-benar menikmati perkemahan 3 hari dua malam itu. Hiking-nya, lomba-lombanya, dan banyak hal lagi.
Sampai akhirnya…

Setelah hiking, kakiku terasa sangat sakit. Bengkak. Sebenarnya aku sudah biasa, tapi entah kenapa yang ini sangat sakit.
Aku pun berjalan ke tenda medis sehabis shalat Isya. Aku berjalan dipapah oleh Putri.
Di perjalanan, aku sadar aku pasti akan bertemu dengan Oci. Karena Oci adalah salah satu anak yang ditunjuk jadi tim medis.
Betul saja.
Aku pun segera memanggil Oci. “Oci! Ambilin gue minyak gosok, dong!”

Oci pun segera bergerak mengambilkanku minyak gosok, dan kemudian aku berpesan padanya agar tidak memberitahu guru-guru. Lalu aku kembali ke tenda.
Karena sakit, aku memutuskan tidur.
Saat itu, aku benar-benar tidak tenang. Banyak pikiran yang menggangguku. Apalagi masalah Oci. Berkali-kali aku bangun, lalu tidur lagi. Berkali-kali pula aku mengambil napas panjang dan melotot sendiri.
Entahlah.

Lalu aku terbangun di jam sembilan. Dan aku menangis sendiri entah kenapa sambil memegangi kakiku yang sakit.
Teman-temanku langsung panik. Dea, Inka, dan Putri langsung menghubungi tim medis.
Dari jauh kulihat Oci berbicara pada Dea. Pasti tentang aku yang sakit dan menangis.
Pak Reska datang dan aku dipaksa ke tenda medis. Begitu keluar dari tenda reguku, di luar sudah ada Oci, Yumna, dan Reza. Tiga orang yang menjadi anggota tim medis.

Aku hanya menelan ludah melihat Oci. Aku menggenggam minyak gosok yang ia berikan tadi dengan erat. Lalu aku berjalan.
Ketika berjalan, rasanya agak sakit. Jadi aku berjalan pincang.
Dan karena baru bangun tidur, aku merasa agak sempoyongan. Aku langsung menggenggam lengan orang di sebelahku agar aku tidak pingsan.
Dan orang itu adalah Oci.

Begitu aku sadar, aku langsung mencampakkan tangan Oci. Dan Pak Reska langsung datang dan memegangku sebelum aku benar-benar pingsan.
Yang kupikirkan hanyalah satu; betapa malunya aku bertemu Oci lagi.
Setelah diurut oleh Pak Reska di tenda medis, aku langsung pergi ke tendaku atas inisiatif sendiri. Aku bosan berada di tenda medis. Lagipula tidak ada yang memerhatikanku, aku bisa kabur.
Aku pun berdiri dengan sempoyongan, dan memakai sandal.

Tapi sebuah suara mencegahku, “Mau ke mana?”
Suara Oci.
Wajahku kurasakan memanas. Tapi aku harus santai. Aku harus bisa mengatasi perasaan ‘aneh’ku!
Aku pun berjalan ke arah Oci, lalu kukembalikan minyak gosok yang ia berikan. “Makasih. Gue mau ke tenda. Bosen.”
“Lo bisa jalan sendiri.”

Aku hanya diam dan terus berjalan sendiri ke tenda.
Sejak saat itu, sampai selesai berkemah dan seterusnya, aku merasa aneh setiap bertemu Oci. Karena perlahan-lahan… aku mulai melupakan Tian!
Oh Tuhan… bagaimana ini?
Dia itu sahabatku! Dan akan terus seperti itu! Aku tidak rela kehilangan sahabat seperti dia, Tuhan..
Jangan-jangan ini memang karena perkataan teman-temanku.

“Semoga lo jadian sama Oci.”
“Cie… semoga langgeng yah.”
Ada pepatah, “Perkataan adalah doa.”
Dan mungkin ada cinta nyata yang tumbuh karena kalimat itu.
Jangan Tuhan. Dia sahabatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar